Ratu Adil Tanah Jawa

Pangeran Diponegoro muncul sebagai personifikasi Ratu Adil, lalu dibungkus dengan nuansa keislaman. Personifikasi secara gamblang ditemukan dalam Babad Diponegoro. Kehadiran Ratu Adil memang dipercaya masyarakat Jawa sebagai ramalan Jayabaya. Melalui ramalan itu, masyarakat Jawa meyakini bahwa Sang Pangeran mampu membebaskan Jawa dari cengkeraman kolonialisme.

Puncak dari keyakinan ini memicu meletusnya Perang Jawa (1825-1830). Perang tersebut bukan sekadar perlawanan terhadap penjajah, tetapi sekaligus menjadi dasar bagi perjuangan kemerdekaan yang lebih besar di masa mendatang. Benarkah Diponegoro adalah Ratu Adil seperti yang ia deklarasikan sendiri?

Justus Maria van den Kroef memandang konsep awal Ratu Adil relatif bersifat abstrak dan tidak terpersonifikasikan, sebelum kehadiran ajaran Kristus sebagai Sang Juru Selamat serta ajaran Islam tentang Imam Mahdi (Van der Kroef, 1959). Namun, dalam risalah yang berjudul “Waiting for the Just King: The Road to War in South-Central Java 1785-1855” (2007), Peter Carey menyajikan Pangeran Diponegoro sebagai contoh paling ikonik serta personifikasi paling tepat dari pengharapan masyarakat Jawa terhadap sosok Ratu Adil.

Menurut Carey, Pangeran Diponegoro diyakini oleh masyarakat Jawa, terutama pengikutnya sebagai sosok Ratu Adil yang telah dinantikan kedatangannya sejak lama. Keberadaannya sangat diharapkan mampu membebaskan Jawa dari cengkeraman kolonialisme, serta mengembalikan kejayaan Mataram Jawa. Keyakinan ini dibuktikan pada tahap awal Perang Jawa, ketika Sang Pangeran berada di markas pertamanya, di Selarong, sekitar Juli-September 1825. Semua rakyat jelata mendukungnya karena percaya bahwa dialah Ratu Adil seperti ramalan Jayabaya.

Atas ramalan Jayabaya itu, Carey menafsiri bahwa kedatangan Ratu Adil digambarkan oleh berbagai peristiwa alam terlebih dahulu, diantara adalah terjadi hujan abu, gempa bumi serta gerhana matahari dan bulan. Dalam kasus Diponegoro, sebagian tanda-tanda itu terjadi. Hal ini misalnya ditemukan dalam laporan media Belanda terkait dengan meletusnya Gunung Merapi yang terjadi pada Minggu dini hari, 28 Desember 1823.

Selain itu, Carey juga memaparkan tentang ramalan kehancuran kekuasaan Yogyakarta. Masih merujuk ramalan Jayabaya, kedatangan Ratu Adil juga ditandai oleh runtuhnya kekuasaan Yogyakarta setelah sepuluh windu (siklus delapan tahunan) atau delapan puluh tahun dalam penanggalan Jawa. Tanda-tanda bahwa masa itu sudah dekat dapat dilihat dari ketegangan internal di dalam Keraton Yogyakarta, karena pemerintahan Patih yang korup serta kurangnya jiwa kepemimpinan sehingga tunduk total kepada pihak Belanda.

Krisis Keraton diperparah oleh skandal Jabarangkah (wilayah yang berlokasi di antara daerah Surakarta dan Yogyakarta). Wilayah ini diambil-alih oleh pihak Belanda untuk keperluan pos-pos strategis. Ini merupakan kebijakan rahasia Gubernur Van der Capellen, yang diambil pada tanggal 9 September 1823, setelah mendapat persetujuan pihak Keraton. Dalam kebijakan tersebut, wilayah Jabarangkah dikuasai Belanda serta dapat disewakan selama 30 tahun dengan harga sewa tahunan sebesar ƒ26.000 hingga ƒ100.000.

Akibat kebijakan rahasia ini, Pangeran Diponegoro sangat marah karena ia tidak pernah dilibatkan oleh Keraton. Setelah skandal Jabarangkah, Sang Pangeran lebih memilih mengasingkan dirinya dari kehidupan Keraton. Ia menenggelamkan diri menjalani kehidupan spiritual, nyepi di gua Secang di Selorang, bahkan sesekali menuju gua Suralanang yang berada di wilayah pantai selatan.

Dalam Babad Diponegoro diceritakan bahwa selama masanya nyepi itulah, Sang Pangeran bertemu dengan sosok Ratu Adil. Ia berdiri di puncak gunung dengan pancaran sinar menyerupai matahari. Bahkan Pangeran Diponegoro pun tidak mampu melihat wajahnya dengan sempurna, hanya sekelebat sorban berwarna hijau dan jubah putih berkilau. Itulah Ratu Adil yang memerintahkan Sang Pangeran
untuk mempersiapkan pasukan dalam rangka menyongsong perang. Babad juga berkisah bahwa seruan perang ini mendapat pendasaran dari ayat-ayat al-Qu’ran.

Menurut Carey peristiwa esoteris yang dialami Diponegoro terjadi pada malam hari tanggal 21 bulan puasa, malem slikur. Dalam tradisi Islam, malam ini juga dikenal dengan malam lailatul qadar, yaitu malam turunnya al-Qur’an. Bagi Carey, ini merupakan perpaduan antara kepercayaan Jawa dan Islam.

Nuansa Islam membungkus ramalan datangnya Ratu Adil. Perintah untuk berperang seperti disampaikan Ratu Adil kepada Diponegoro, dilegitimasi sebagai perintah al-Qur’an. Inilah yang mempertegas misi Dipanagara sebagai seorang Muslim Jawa untuk mengangkat derajat Islam di tanah Jawa, dan menjalankan tugas sebagai ratu paneteg panatagama, seorang penguasa yang berdiri teguh di atas agama.

Ratu Adil yang secara simbolik bersorban hijau dan berjubah putih, menurut Carey, jug merupakan imajinasi akan sosok mitologi Sultan Ngrum, dari Turki. Pakaian tersebut menunjukkan pengaruh Islam yang kental pada masa itu. Meski begitu, tidak bisa dipungkiri bahwa penampakan Ratu Adil yang berdiri di puncak gunung juga bisa ditafsir sebagai imajinasi atas dewa animisme Jawa kuno, seperti Sunan Lawu atau Kyai Sapu Jagad (roh penjaga Gunung Merapi). Menurut Carey, penampakan Ratu Adil dengan begitu merupakan cerminan dari kepercayaan animisme yang masih dianut oleh masyarakat Jawa.

Sang Pangeran akhirnya menerima perintah Ratu Adil dengan sikap pasrah. Ini sesuai dengan filosofi masyarakat Jawa bahwa kehidupan itu sendiri adalah persiapan yang terus-menerus dilakukan sebagai tanggung jawab terhadap kosmos. Dalam hal ini senada dengan adagium Jawa “wis pestine, wis dadi pepesthen lan wis dadi karsane Gusti Ingkang Maha Kuwasa.”

Saat Meletus Perang Jawa, Sang Pangeran juga mendapatkan gelar-gelar yang tidak bisa ditolaknya. Ia disebut sebagai Sultan Ngabdulkamid, Raja Adil, bahkan Erucakra. Dalam Serat Dharmasunya yang ditulisnya sendiri, Sang Pangeran pada akhirnya menegaskan dirinya sebagai Erucakra, sosok Ratu Adil pembebas Jawa. Serat ini juga berisi seruan kepada seluruh masyarakat Jawa agar ikut serta bersamanya menjalankan jihad melawan Belanda (Arps, 2019).

Perwujudan Ratu Adil dalam diri Diponegoro tidak hanya dilatarbelakangi oleh ramalan Jayabaya, namun dimuati juga oleh nuansa keislaman. Perwujudan Ratu Adil dalam Babad Diponegoro juga mencerminkan akulturasi Islam dan kepercayaan lokal. []