Menyelami Konsep Erotika Jawa

Ekspresi erotika termanifestasi dalam bahasa. Upaya melakukan inventaris istilah kata Jawa yang memiliki makna erotik pernah dilakukan Elizabeth Inandiak dalam “Dari Erotika ke Sir Centhini” (2012). Amatan ini tidak lepas dari keprihatinannya menilik beragamnya peminjaman istilah erotika dari bahasa-bahasa Barat. Bahkan kata erotika sendiri yang disinggung di muka merupakan istilah serapan dari legenda Yunani kuno.

Disisi lain obsesi Inandiak tak sekadar mengelompokkan istilah erotika belaka, Ia juga berupaya mencari padanan istilah Jawa yang mampu menandingi kata erotika yang terkesan Baratsentris. Caranya dengan menelusuri khazanah sastra Jawa serta pengetahuan lokal yang memuat ekspresi erotika di dalamnya. Demikianlah potret keberangkatan Inandiak dalam menyelami erotika Jawa.

Melalui kegelisahannya, Inandiak berhasil menghimpun beberapa istilah erotika dalam bahasa lokal. Pembendaharaannya cukup banyak: berahi, syahwat, hawa, nafsu, gandrung, wuyung, tresna semi, saresmi. Tetapi faktanya, syahwat, hawa, dan nafsu merupakan jelmaan dari bahasa Arab. Demikian juga berahi yang berakar dari bahasa Sanskerta. Dirasa kurang puas, Inandiak kembali melakukan penelusuran dengan menyusun daftar istilah yang berhubungan dengan erotika dalam Serat Centhini. Karya ini dianggap identik dengan karya sastra erotika di Jawa.

Langkah tersebut mengantarkan Inandiak pada suatu kesempatan untuk mencicipi kekayaan istilah erotika yang berkembang di Jawa. Ringkasnya, melalui Centhini tersibak satu persatu istilah erotika di dalamnya. Mulai dari asmaragama atau seni bersenggama, kasmaran, ajiginieng atau pengetahuan mengenai teknik bersenggama, naluri seksual, perangsangan berahi, cinta syahwati, pengumbaran nafsu, dan mabuk kepayang.

Pengembaraan Inandiak dalam menuntaskan Centhini, tak sekedar upaya penginventarisan istilah erotika belaka. Interpretasinya dalam membaca kisah Amongraga dan istrinya Tambangraras yang melewatkan empat puluh malam di kamar pengantin tanpa bersetebuh, memantik Inandiak untuk menelurkan suatu narasi mengenai erotika khas Jawa berupa istilah ‘sir’, yakni keterpautan antara erotik seraya mistik yang kental akan nuansa ajaran tasawuf.

Peristiwa erotik seraya mistik tersebut terekam dalam Centhini pada enam pupuh terakhir jilid ke-6 dan empat belas pupuh pertama jilid ke-7. Kemudian, pada nantinya secara utuh terumuskan ‘sir’ sebagai istilah sejati pengganti kata erotika. Sir ‘paduan nafsu’ dalam bahasa Jawa dan sir dengan makna ‘rahasia’ dalam bahasa Arab.

Dalam prosesnya, tatkala Inandiak menarasikan sir sebagai pengganti kata erotika, bermula dari kepiawaiannya dalam menggubah skenario adegan dan penyutradaraan kisah Amongraga dan Tambangraras. Dengan berani Inandiak membuat Tambangraras menjadi lebih berpikir, perasa, cerdas dan tangkas. Berbanding terbalik dalam teks Centhini aslinya, potret Tambangraras selama empat puluh malam dipandang cukup pasif sebatas mengamini segala ajaran Amongraga dengan diam. Gubahan Inandiak tersebut terbukukan dalam “Centhini Kekasih yang Tersembunyi” (2015).

Momen transformasi sosok Tambangraras tergambarkan lebih hidup dalam tembang 81, sebagai berikut:

Ketika malam kesepuluh tiba, di haluan ranjang, Tambangraras membiarkan kaki telanjangnya terbuka dan berkata: ‘oh, apiku! Lihatlah betapa dahaga daku akan ilmu Kakanda, tubuhku bagai tanah kering merekah, terbelah. Turun hujan pertama, basah kuyup ia, mabuk air. Tapi musim hujan lalu mohon diri dan haus tak tertahankan pasti kembali.

Dari buritan ranjang, Amongraga menjulurkan tangan telanjangnya ke kaki istrinya dan dengan empu jari mengurut lekuk tapaknya, tempat hasrat sekujur tubuh tertuju. Lama ia memijat seirama pedih nyanyiannya: JIka kau dahagakan; Air dahagakanmu. Di balik sekat berkerawang; Centhini merasakan malam undur diri sebelum pudar.”

Dalam cuplikan di atas terpotret transformasi Tambangraras, telah berkembang menjadi sosok yang lebih cerdas dan tangkas. Tak sekedar menyimak ajaran Amongraga dalam diam. Tentunya kebrilianan Inandiak dalam memberi porsi lebih pada sosok Tambangraras yang ikut andil menyahut dalam interaksi, memungkinkan tercipta suasana dialog yang lebih hidup diantara keduanya.

Kemudian, melalui secuil interaksi antara Amongraga dan transformasi sosok Tambangraras tersebut, memberi sinyal bahwa erotika bukan tindakan seksual. Inandiak menafsirkan bahwa erotika sebenarnya bukan sebuah tindakan apa pun. Erotika adalah sebuah khalayan sebelum terjadinya senggama, sebuah ketakjuban panca indera melewati khayalan dan pikiran. Erotika tidak perlu tubuh ragawi, erotika hanya perlu khayalan. Sebenarnya, erotika adalah sebuah penyutradaraan, pementasan hasrat senggama. Untuk berkembang, erotika perlu panggung. Lalu panggung yang paling hebat dalam Centhini adalah ranjang pengantin tempat Amongraga dan Tambangraras berbaring selama empat puluh malam tanpa bersetubuh yang mencapai puncaknya di malam ketiga puluh Sembilan (Inandiak, 2012).

Tembang 110

Di kamar pengantin, angin diam mengembus kandil. Ini malam ketiga puluh sembilan. Di ranjang bidadari, Amongraga dan Tambangraras tidak lagi melihat ketelanjangan masing-masing maupun jarak pemisah mereka. Tidak ada lagi haluan maupun buritan, raib pula garis batas air.

Dalam empuk hangat kegelapan, mereka merasa makin lebur menyatu tubuh. Mereka saling menjadi yang lain dan pasrah keduanya pada dekapan keremangan. Suara mereka pun mengalir yang satu dalam yang lain dan juga dalam malam yang kian pasang.

Hujan hangat hangar turun malam itu, bagai air mendidih dituang atas daun-daun kering dan segera membebaskan harum wangi pegunungan di kerongkongan.”

Demikianlah potret dari puncak erotika yang tercapai bebarengan dengan puncaknya mistik. Seolah-olah Inandiak ingin mengatakan bahwa jalan menuju puncak erotik dapat dicapai melalui atribut mistik sebagai instrumen pentingnya. Pada akhirnya atribut mistik tersebut hadir sebagai legitimasi dalam mengukur puncak erotik yang ditandai dengan momen ekstase antara Amongraga dan Tambangraras (manunggal).

Selain itu, kurang lebih narasi yang ditawarkan Inandiak memiliki kerangka nalar sama dengan narasi terdahulu sarjana Barat terkait keterpautan seks dan spiritual. Pada periode kuno masyarakat menghayati aktivitas seksualitas tidak hanya sebagai kebutuhan biologis semata, namun juga hadir sebagai kebutuhan spiritual (Bishop, 2004). Betapapun demikian, apa yang ingin dilacak Inandiak merupakan perkara mendasar terkait ekspresi erotika di Jawa. Lahirnya narasi sir sebagai proyeksi untuk menandingi istilah erotika adalah bukti keseriusannya dalam menuntaskan kegundahan intelektualnya.

Melalui usahanya tersebut Inandiak berhasil membuka tabir kegagapan kita dalam meneropong masa silam. Tentu hal ini tak lepas dari kepiawaiannya dalam merasakan serta mencuplik adegan manunggal Amongraga dan Tambangraras sebagai puncak erotik, kemudian menafsirkannya sebagai sir. Pungkasnya sir hadir sebagai ekspresi erotika khas Jawa yang asing di telinga masyarakat Jawa sendiri, atau mungkin sir hanya sebatas proyeksi personal Inandiak untuk menandingi istilah erotika. []