Agustus hampir genap. Itu di pertengahan tahun 1365 M, tepat dengan suryasengkala, Saptadwijarawi. Suatu proyek ambisius, merawat dan meruwat candi-candi makam (para raja) dalam mata rantai leluhur Majapahit telah dirampungkan.
Total ada dua puluh tujuh candi makam yang berhasil direstorasi. Suatu prakarsa besar yang belum pernah ada dalam sejarah. Tidak di masa lalu, tidak pula terjadi di masa depan. Maharaja Rajasanegara menandai masa keemasan Majapahit justru dengan mengejawantahkan penghormatan besar kepada para pendahulunya.
Bisa dikatakan, sejak ditahbiskan sebagai Maharaja tahun 1350 M, salah satu megaproyek yang paling menyedot sumberdaya adalah proyek restorasi tersebut. Setiap Maharaja memang punya ‘kegilaannya’ sendiri. Dan, Hayam Wuruk memang terkenal gila dalam “mikul nduwur mendem jero.” Ia menciptakan kesentosaan candi-candi makam, selayak-layaknya yang bisa dilakukan. Semua dalam rangka menghormati leluhur.
Selama lima belas tahun lamanya, restorasi berlangsung tanpa henti. Candi-candi makam yang rusak diperbaiki. Sebagian disempurnakan pembangunannya. Ini berlaku mulai dari Kagenengan (candi makam untuk Ranggah Rajasa atau Ken Angrok Sang Amurwabhumi) hingga Prajnaparimitapuri (candi makam untuk Sri Gayatri Rajapatni). Semua dicatat dengan pemberian prasasti yang melibatkan para ahli sastra.
Pada tahun itu juga, ketika proyek raksasa itu telah sempurna, Rajasanegara juga menitahkan, agar semua candi makam dirawat. Semua rakyat ikut menjaga dan menyentosakan kehidupan spiritual yang melingkupinya. Tidak tanggung-tanggung, Maharaja mengangkat pejabat khusus di tingkat kerajaan untuk tugas pelestarian tersebut. Jabatan itu adalah Sang Arya Wira Dhikara.
Sebuah jabatan prestisius akan tetapi lebih bersifat kesukarelawanan. Arya Wira Dhikara inilah yang bekerja siang-malam, menjaga iklim percandian agar tetap menjadi kawasan yang mengayomi kehidupan rohani masyarakatnya. Ini mirip jabatan koordinator para juru kunci candi. Bersama dengan para pemuka agama Siwa, Buddha, dan para rsi, Arya Wira Dhikara tidak kenal lelah dalam menjaga kepentingan bersama atas candi-candi makam itu.
Megaproyek inipun belum apa-apa. Restorasi dua puluh tujuh candi makam hanyalah suatu awalan untuk menghidupkan semua tempat sakral dan keramat di seluruh mandala Majapahit. Rajasanegara tidak pernah main-main dalam urusan penghormatan kepada leluhur. Sesudah tahun 1365, ia perintahkan semua desa perdikan, swatantra dan sarwadharma, untuk menghidupkan kembali bangunan suci. Juga warisan kuno yang sakral dan keramat.
Ini berlaku untuk semua agama. Para pemuka Siwa, Buddha, dan para rsi berkewajiban menjaga semua tempat keramat dan sakral, termasuk menjaga pasraman dan para petapa di dalamnya. Ini juga berlaku untuk semua pasraman, baik Siwa, Kasogatan, maupun Karsian. Tak terhitung banyaknya jumlah desa perdikan itu. Tidak terhitung pula jumlah pasraman. Saking banyaknya, desa-desa dan pasraman hampir merata di seluruh Jawa.
Semua desa perdikan ditelusuri sejarah babad desanya. Candi-candi peribadatan di desa-desa juga didata ulang. Candi yang sudah berprasasti dikukuhkan ulang. Candi yang belum berprasasti, dikeluarkan plakatnya. Untuk urusan pemakmuran candi-candi peribadatan itu, diserahkan pada pejabat tinggi lain di tingkat kerajaan. Pejabat itu adalah Sang Arya Rama Diraja.
Apa yang dilakukan oleh Rajasanegara memang tidak biasa. Bisa dibayangkan bagaimana keteguhan hatinya ketika ‘menyulap’ Jawa sebagai medan sakral. Dan ingat, itu ditempuh bukan dengan membangun tatanan baru. Ia justru bergelora untuk menggairahkan kembali apa yang sudah berakar dalam masyarakatnya. Melalui cara itu, bisa dibayangkan pula, dialah maharaja dalam trah Singhasari dan Majapahit yang paling banyak mengeluarkan prasasti. Semua candi makam, semua desa perdikan, bahkan candi di desa-desa pun mengantonginya.
Desa-desa dikejar babadnya hingga bertemu dengan para bijaksana dari masa lampau. Bahkan yang paling pelosok sekalipun dipetakan. Batas laut, sungai, hutan, gunung ditetapkan. Semua yang sakral dirawat dan dilindungi. Kehidupan para petapa dan pesemedi menjadi jauh lebih sentosa. Orang-orang berziarah lalu-lalang, melintasi batas-batas geografis. Desa-desa dan seluruh wilayah kerajaan semakin sepi dari para durjana.
Dan, bayangkan, bila kebijakan ini pada akhirnya juga diterapkan di seluruh Nusantara, tidak terkecuali Bali. Maka, segeralah seluruh wilayah mandala Majapahit pada masa itu, dikepung oleh bangunan suci, tanah perdikan, dan pasraman yang berdaya. Juga tempat-tempat keramat yang penuh energi. Mandala-mandala itu disatukan oleh kegairahan sama dalam menyalakan warisan leluhur.
Abaikan saja soal-soal tak kasat mata Hyang keramat itu. Kebijakan Rajasanegara menyalakan medan sakral di seluruh mandala Majapahit, setidaknya masih bisa dibaca sebagai langkah politik pemajemukan. Istilah ini sengaja saya gunakan untuk menyebut upaya perawatan yang majemuk tetap demikian adanya. Atau, meski tidak persis sama, sebut ‘politik moderasi’ dalam bahasa latah saat ini.
Secara religi, kemajemukan saat itu ditentukan oleh keteguhan para Pandita Siwa, Buddha dan para rsi dalam menjalankan dharmanya masing-masing. Ini dipayungi oleh suatu konsep Sang Catur Asrama. Begitu pula, semua kelompok sosial mengorkestrasi diri dalam keselarasan, justru karena setiap orang dan kelompok, sangat memahami kewajiban religinya sendiri-sendiri.
Inilah pemajemukan yang tidak perlu memaksa orang-orang kecil menyelaraskan dirinya dengan yang besar. Harmoni justru lahir ketika semua kelompok religi mendapat kemerdekaannya dalam melakukan tapa dan samadi, olah jiwa dan kebatinan menurut caranya sendiri-sendiri. Ada kepercayaan diri yang luar biasa, sejauh orang menjalani olah batin, toh pada akhirnya akan bermuara pada substansi yang tunggal.
Kedewasaan seperti inilah yang dipetik oleh Majapahit berkah kebijaksanaan yang diwujudkan oleh Rajasanegara. Bukan membuat tatanan baru, tetapi justru ditempuh dengan menyalakan apa yang berhasil ditata oleh generasi-generasi pendahulu. Tampak sekali, Sang Hyang Girinata memang sangat menginsyafi makna keberakaran. Tidak ada apapun yang bisa bertumbuh tanpa akar yang menghujam. Begitu juga suatu bangsa beserta kebudayaannya.
Restorasi candi-candi makam, menghidupkan yang keramat dan sakral, menyalakan desa-desa dan mandala, hanyalah suatu jalan menuju keberakaran. Rajasanegara sendiri, telah menjadikan dirinya sebagai contoh, bagaimana keberakaran seharusnya dilakoni. Sejak ditahbiskan sebagai Maharaja Majapahit, hal pertama yang ia lakukan adalah menziarahi semua jejak leluhurnya.
Ia berziarah ke Palah, Singhasari, Balitar, Sagala, Kagenengan, dan ke semua jejak leluhur yang bisa ditelusuri. Ziarah baginya adalah sarana untuk memupuk imajinasi tentang kemewahan masa lalu. Tetapi sekaligus kaca benggala untuk memproyeksi kemegahan masa depan. Imajinasi dan proyeksi adalah faktor kunci perubahan. Tanpa keduanya, orang pasti tidak memiliki akar sekaligus kehilangan tujuan. Bahkan, tanpa keduanya suatu bangsa tidak berarti apa-apa.
Berziarah menjadi tonggak suatu bangsa. Semua bangsa besar pastilah bangsa yang berziarah. Laku ini menuntut kerendahan hati, sehingga menyinari orang untuk mampu melihat hidupnya dalam keterhubungan total dengan masa lalu. Rajasanegara tahu persis cara melakukannya. Ia merayakan keterhubungan itu, hingga merasuk ke dalam prinsip penyelenggaraan politiknya.
Ia seperti melanjutkan jejak kakeknya, Dyah Wijaya, pendiri Majapahit, yang tidak pernah mau melepaskan dirinya dari keberadaan para leluhurnya. Nama abhiseka pendiri Majapahit itu adalah Kretarajasa Jayawardhana. Nama ‘Kreta’ dinisbatkan pada Kretanegara, Raja Singhasari terakhir; Sementara itu, Nama ‘Rajasa’ dinisbatkan pada Ranggah Rajasa atau Ken Angrok Sang Amurwabhumi, pendiri Singhasari.
Dengan memanggul dua unsur nama leluhur, Dyah Wijaya telah meletakan dirinya dalam keterhubungan total dengan para leluhurnya. Ini modalitas utama untuk menyusun kebijakan politik Majapahit, melanjutkan visi besar Singhasari dalam menyatukan Nusantara. Prinsip keterhubungan inilah yang semakin kokoh dipertahankan oleh Hayam Wuruk. Seperti kakeknya, dengan memanggul abhiseka Rajasanegara, Ia begitu menyadari laku ziarah sebagai keterhubungan total.
Visi politik penyatuan dengan menghujamkan keberakaran inilah, kunci kesuksesan politik kedua Maharaja. Visi sebesar itu hampir tidak mungkin dirumuskan kecuali dengan kekuatan imajinasi dan proyeksi. Dan, kedua hal itu hampir mustahil diwujudkan tanpa keberakaran dan laku ziarah. Gilang-gemilang capaian politik Hayam Wuruk adalah buah dari laku ziarah.
Inilah Maharaja yang mengabdikan seluruh hidupnya untuk memuliakan leluhurnya. Rajasanegara secara gigih merestorasi candi-candi makam, menyalakan tempat keramat dan sakral, juga melindungi semua desa perdikan dan mandala. Setelah semua dilampaui, dalam waktu sekejap saja Majapahit telah menjadi magnet yang menyedot perhatian seluruh negara di kawasan.
Orang berbondong-bondong mendatangi Majapahit bukan sekadar untuk berziarah, tetapi juga untuk berdagang dan bertukar ilmu pengetahuan. Orang-orang manca berlalu-lalang ke Majapahit karena pesonanya. Mereka berasal dari Jambu Dwipa, Kamboja, Cina, Yawana, Campa, Goda, Siangka (Siam) dan lainnya.
Hanya dalam keberakaran, kosmopolitanisme Majapahit lahir. Penghormatan kepada leluhur itulah pondasi bagi seluruh megaproyek yang dibangun oleh Rajasanegara. Dua puluh tujuh candi makam pada awalnya. Dan seluruh wilayah mandala pada akhirnya. Candi-candi makam itu sendiri sebagian besar masih bertahan hingga saat ini. Sebagian memang tidak ditemukan, Dan sisanya secara fisik hanya tersisa puing-puingnya.
Meski begitu, penghormatan terhadap warisan tersebut tidak pernah pudar. Sampai sekarang pun, ketika zaman sudah berubah, candi-candi makam masih terus diziarahi oleh para pewaris. Lintas-generasi, lintas-agama. Suatu pemandangan yang begitu memukau karena, harusnya pamor candi-candi makam itu telah redup bersama dengan redupnya Hindu-Buddha. Kenyataannya tidak pernah demikian.
Candi-candi makam tetap dihormati hingga sekarang. Pemandangan ini semakin meyakinkan bahwa, prinsip keberakaran itulah yang menjadikan warisan-warisan Rajasanegara tetap dihormati hingga saat ini. Ia begitu waskita, tanpa prinsip keberakaran, megaproyek sebesar apapun, hanya akan menjadi bangunan pasir.
Omwilaheng.
Ditulis dalam rangka Peringatan Sraddha Agung Sri Gayatri Rajapatni, 26 Desember 2025.