Catatan ‘Peringatan Sraddha Agung Sri Gayatri Rajapatni, 2025’

Peringatan Sraddha Agung Sri Gayatri Rajapatni, kembali digelar keenam kalinya pada 2025.

Seperti kebiasaan sebelumnya, Peringatan tersebut jatuh pada tanggal 26 Desember. Sejak 2017, tanggal tersebut dianggap yang paling cocok untuk menggelar Peringatan Sraddha Agung.

Konsorsium Bhinneka Tunggal Ika sebagai pemangku hajatan, tetap berupaya sekuat tenaga menghadirkan Peringatan Sraddha Agung, dengan segenap sumber daya yang dimilikinya.

Sejak 2019, Konsorsium terbentuk sebagai suatu aliansi yang diberi mandat sebagai lembaga pemangku festival. Karena itu, Konsorsium akan terus bekerja dalam melestarikan festival kebudayaan tersebut.

Konsorsium beranggotakan tiga lembaga penting. Institute for Javanese Islam Research (IJIR UIN SATU), Majelis Luhur Kepercayaan Indonesia (MLKI) Tulungagung, dan Ponpes Albadru Alaina.

Sejak Peringatan Sraddha Agung Sri Gayatri Rajapatni digelar pada 2017, ketiga lembaga inilah yang terus bahu-membahu mewujudkan lahirnya festival yang ditujukan untuk mengenang jasa-jasa besar Sri Gayatri Rajapatni.

Meski begitu, Konsorsium baru terbentuk pada Peringatan Sraddha yang ketiga tahun 2019. Ini tidak lepas dari komitmen bersama dalam mewujudkan lembaga pemangku, sehingga festival bisa dilakukan secara berkelanjutan.

Puncak Hajatan

Peringatan Sraddha Agung Sri Gayatri Rajapatni yang keenam tahun 2025, berlangsung penuh kebersahajaan dan khidmat.

Bila dibandingkan dengan beberapa tahun sebelumnya, bisa dikatakan inilah Peringatan Sraddha Agung yang paling sederhana.

Tidak seperti tahun 2022 yang diwarnai dengan arak-arakan, serta pementasan Ketoprak. Tidak juga seperti tahun 2024, yang diwarnai pementasan Wayang Purwa.

Tahun 2025, puncak acara Peringatan Sraddha Agung justru hanya dengan doa lintas agama/kepercayaan. Semua tokoh agama/kepercayaan mewakili komunitasnya masing-masing, berperan sangat besar dalam menyukseskan hajatan.

Meski begitu, seperti halnya tahun 2022 dan 2024, rangkaian Peringatan Sraddha Agung, selalu diawali dengan kegiatan ziarah ke sejumlah situs penting di Tulungagung dan Blitar.

Tahun ini, dilakukan di tujuh titik sekaligus. Dilakukan pada Selasa, 23 Desember 2025, ziarah dimulai dari Candi Dadi, di puncak pegunungan Walikukun.

Lalu, dilanjut ke Candi Penampihan, lereng Gunung Wilis. Berlanjut ke makam Bung Karno, di Blitar, dan Candi Simping, Blitar. Sesudah dari Simping, rombongan ziarah menuju Gua Pasir, Tulungagung.

Peserta ziarah dibagi ke dalam tiga kelompok, dan pada akhirnya bertemu di Candi Sanggrahan, Tulungagung. Bertolak dari Sanggrahan inilah, semua rombongan menuju pada destinasi terakhir di Prajnaparimitapuri, yakni Candi Gayatri, Boyolangu.

Ziarah benar-benar menjadi acara inti karena, Peringatan Sraddha Agung memang diniatkan untuk mengenang jasa-jasa Sri Gayatri Rajapatni dalam mengukir sejarah gilang-gemilang penyatuan Nusantara, di masa lalu.

Setiap tahunnya, kegiatan ziarah selalu dilakukan sebelum puncak acara Peringatan Sraddha Agung. Seperti halnya tahun 2022 dan 2024, puncak acara Peringatan Sraddha Agung kembali digelar di Ponpes Albadru Alaina, Ngantru.

Ponpes yang dipimpin oleh Kiai Amu Sidiq Amanah ini memang memiliki komitmen sangat besar, untuk terus menjadi penyokong utama penyelenggaraan Peringatan Sraddha Agung.

Pada puncak acara peringatan inilah, 1000 orang yang mewakili berbagai organisasi keagamaan, paguyuban Penghayat Kepercayaan, dan organisasi adat-tradisi, berkhidmat bersama-sama untuk mengenang jasa-jasa Sri Gayatri Rajapatni.

Mereka juga berdoa bersama-sama untuk keselamatan bangsa. Menyampaikan pengharapan tertinggi terwujudnya Indonesia yang adil, makmur, dan sejahtera seperti dicita-citakan oleh para pendiri bangsa.

***

Dalam rangka mengobarkan spirit kebangsaan, Akhol Firdaus, Direktur IJIR UIN SATU, didaulat untuk menyampaikan pidato kebangsaan, yang intinya mengupas nilai-nilai Pancasila dan Bhinneka Tunggal Ika sebagai warisan paling berharga dari periode Majapahit.

Pidato itu sendiri berlangsung hampir satu jam, dan berisi tiga bagian pokok:

Pertama, mengupas makna Sraddha Agung dalam konteks penghormatan terhadap figur sentral yang dianggap sangat berjasa salam penyatuan Nusantara.

Pada 1362, peringatan tersebut digelar oleh Maharaja Hayam Wuruk sebagai penghormatan terhadap leluhurnya, Sri Gayatri Rajapatni. Pada prinsipnya, Peringatan Sraddha Agung yang dilakukan oleh Konsorsium adalah dalam rangka mengenang peristiwa tersebut.

Kedua, pidato juga mengupas tentang Hayam Wuruk atau Sri Rajasanegara yang dianggap sebagai raja paling sukses dalam mewujudkan cita-cita penyatuan Nusantara. Kunci kesuksesan tersebut adalah penghormatan terhadap leluhur-leluhurnya.

Menurut cerita Negarakrtagama, dialah Maharaja yang telah merestorasi dua puluh tujuh Candi makam leluhurnya, sekaligus melindungi kehidupan keagamaan dan spiritualitas di masa lalu, sehingga masyarakat menjadi sentosa.

Ketiga, pidato juga mendorong agar masyarakat dan seluruh elemen bangsa bisa memetik pelajaran dari masa kejayaan Majapahit. Kejayaan itu bukan dongeng, tetapi capaian sejarah akibat kepemimpinan dan penyelenggaraan pemerintahan yang adil, dan menyelaraskan diri dengan harmoni alam semesta.

Agenda Lanjutan

Pelaksanaan Peringatan Sraddha Agung Sri Gayatri Rajapatni akan terus diselenggarakan sebagi sarana penting untuk memupuk identitas dan spirit kebangsaan Indonesia.

Kesuksesan yang dicapai pada penghujung tahun 2025 menyisakan sejumlah catatan penting:

Pertama, Konsorsium Bhinneka Tunggal Ika berpandangan bahwa tanggal 26 Desember perlu dimasukan dalam kalender kebudayaan Pemerintahan Kabupaten Tulungagung, sebagai tanggal Peringatan Sraddha Agung.

Pemerintahan perlu membuat kebijakan tersebut mempertimbangkan substansi yang bisa dipetik. Peringatan Sraddha Agung harus benar-benar menjadi momentum bersama untuk mengokohkan kebangsaan Indonesia.

Kedua, pesan yang disampaikan oleh Peringatan Sraddha Agung harus lebih didesiminasikan secara sistematis, sehingga memiliki daya gema yang lebih jauh.

Hajatan ini perlu ditingkatkan kapasitasnya agar pesan-pesan sejarah dan kebangsaan yang disuarakannya, bisa menyentuh lebih banyak elemen kebangsaan lainnya.

IJIR UIN SATU Tulungagung
27 Desember 2025