Berelasi dengan Makhluk Halus di Jawa

Film “KKN di Desa Penari (2022)” sedikit memberikan gambaran tentang kehidupan masyarakat desa yang dulunya hidup berdampingan secara harmonis dengan makhluk halus. Begitu pula dengan orang Jawa, sebelum berbagai pengaruh datang, mereka menyadari dirinya merupakan bagian dari komunitas ruh. Konsep ini tercermin dalam karya Robert Wessing yang berjudul “A Community of Spirits: People, Ancestors,and Nature Spirits in Java” (2006).

Salah satu pengaruh, datang dari ortodoksi Islam. Dalam normativitas Islam, makhluk-makhluk ini sering disebut sebagai jin atau setan, dengan konotasi yang umumnya negatif, kecuali untuk konsep jin muslim. Karena itu, interaksi dengan makhluk halus harus dilakukan dengan sangat hati-hati karena dapat dianggap menyimpang.

Berbeda dengan orang Jawa yang menganggap dirinya sesungguhnya sebagai makhluk spiritual. Mereka percaya bahwa manusia memiliki dua aspek tubuh, halus (spiritual) dan kasar (fisik). Kedua aspek ini berasal dari spirit yang sama, hanya berbeda dalam manifestasi. Tetapi bagi orang Jawa aspek terpenting dari manusia adalah spiritualnya atau batin.

Setelah manusia hadir ke dunia, orang Jawa percaya bahwa dirinya memiliki saudara gaib, sedulur papat. Berbagai unsur saudara gaib ini secara kasat mata adalah tali pusar, tembuni, air ketuban dan darah (Geertz, 2014). Unsur-unsur ini juga bisa dipahami sebagai penjaga sekaligus kekuatan yang mengiringi kelahiran seorang bayi. Setelah bayi lahir, berbagai unsur tersebut menjadi makhluk halus pelindung bagi setiap individu.

Setiap manusia memiliki hubungan yang berkelanjutan dengan empat saudara gaibnya. Menurut kepercayaan Jawa, saat seseorang hampir meninggal, keempat saudara ini akan berkumpul untuk menemani roh yang keluar dari jasad subyeknya. Mereka dianggap sebagai satu kesatuan yang tidak terpisahkan, sehingga pada saat kematian, mereka akan mendampingi roh tersebut untuk “kembali” mirip dengan saat roh memasuki dunia pada saat kelahiran.

Orang Jawa juga percaya bahwa dirinya adalah manifestasi dari kedua orang tuanya. Orang tua, terutama ibu memiliki peran penting menjaga kedua unsur dalam diri manusia, yakni badan halus dan badan kasar. Seorang Ibu juga bisa disebut sebagai manunggaling dunyo, karena menjadi perantara bagi dunia spiritual dengan material. Sebab Ibulah perantara lahirnya seorang anak ke dunia material.

Perempuan memang sering dihubungkan dengan kekuatan spiritual dan dunia gaib. Contohnya, Nyi Roro Kidul, penguasa Laut Selatan dalam legenda Jawa, memiliki wujud perempuan dan dianggap memiliki kekuatan spiritual tinggi. Selain itu, dalam kasus film “KKN di Desa Penari (2022)”, tokoh Nur juga dilindungi oleh leluhurnya yang juga berwujud perempuan, yaitu Mbah Dok. Bahkan film horor Korea terbaru “Exhuma” (2023) mengadopsi hal tersebut.

Salah satu tokoh dalam film tersebut, Hwa Rim diceritakan memiliki pelindung seorang nenek yang mengikutinya. Dalam kehidupan sehari-hari, banyak juga cerita dari teman-teman saya mengisahkan dirinya diikuti atau dilindungi oleh makhluk halus berwujud seorang nenek. Hal ini menjadi bukti bahwa perempuan di kebudayaan Jawa dan umumnya kebudayaan Timur menjadi simbol spiritualitas tinggi.

Di sisi lain, peran ayah sesungguhnya juga tidak kalah penting. Ayah menjadi manifestasi tubuh kasar pada anak. Meskipun seorang ayah tidak selalu terkait dengan dimensi kasar. Sebab sperma dari pihak laki-laki juga membawa aspek spiritual, empat nafsu pada diri seorang anak. Idealnya melalui perantara orang tua, seorang anak mendapatkan pengasuhan, perhatian, dan perlindungan dan secara bertahap diajarkan untuk menjadi manusia seutuhnya (H. Geertz 1961:105-10).

Mengingat berbagai peran orang tua itulah, maka menempatkan roh leluhur sebagai bagian penting dalam kehidupan di Jawa menjadi bisa dipahami. Sebab meskipun sudah meninggal, mereka tetap berperan untuk merawat dan menjaga para keturunannya. Karena itu, dulu orang Jawa biasa memakamkan orang tuanya yang sudah meninggal di sekitar halaman rumah sebelah Timur.

Sedangkan dalam sudut pandang masyarakat desa, roh leluhur paling penting dikenal sebagai cikal bakal. Tokoh ini adalah orang yang pertama kali membabad area hutan untuk dijadikan desa. Pembabad biasanya adalah orang yang punya kekuatan luar biasa (Poensen 1874:3), sebab hutan dipercaya awalnya merupakan tempat tinggal berbagai macam atau dhemit.

Selain itu, cerita seperti babad tanah Jawa, menyebutkan manusia dapat dianggap sebagai mahkluk yang datang mengkoloni area tempat tinggal makhluk halus (Geertz, 1960:23). Karena itu, manusia harus bisa bekerjasama dengan roh yang baik dan menjadikannya sebagai pelindung. Tentu saja, kerjasama utamanya harus dijalin dengan roh penguasa tanah tempat desa tersebut didirikan. Roh penguasa ini dikenal sebagai nama danyangan.

Istilah “danyangan” sering kali digunakan secara bergantian dengan “cikal bakal”. Di Jawa, “danyangan” lebih umum merujuk pada makhluk gaib yang dianggap sebagai penguasa suatu daerah. Penggunaan istilah ini dalam sudut pandang masyarakat desa dapat dijelaskan melalui sejarah pembentukan desa di wilayah yang belum terjamah. Pada awalnya, hanya ada sekelompok kecil keluarga dan pengikut yang menetap di wilayah baru. Seiring waktu, jumlah penduduk bertambah dan organisasi wilayah desa menjadi lebih kompleks. Akhirnya, roh dari pendiri desa kemudian dianggap sebagai pelindung, tidak hanya bagi keturunannya, tetapi juga bagi seluruh desa.

Manusia dengan para makhluk halus juga terhubung dengan leluhur yang sama, yaitu Kiai Semar. Sebab Semar menyebut dirinya sebagai penguasa semua makhluk halus, sekaligus menjadi leluhur bagi manusia (Geertz 1960:23). Dalam cerita lain, Semar dan saudaranya, Togog, konon lahir dari telur, mereka memiliki peran yang berbeda, Semar bertugas sebagai pelindung Bumi, sementara Togog mengisi bumi dengan populasi manusia. Beberapa kisah tersebut, mengindikasikan bahwa manusia dan makhluk halus memiliki asal yang sama.

Dengan demikian di kalangan masyarakat Jawa, keberadaan makhluk halus bukanlah sesuatu yang asing. Bahkan, mereka dianggap sebagai bagian tak terpisahkan dari diri dan kehidupan. Konsep “sedulur papat limo pancer” menggambarkan makhluk halus merupakan bagian dari diri manusia. Selain itu, orang Jawa percaya bahwa bahwa dirinya adalah pendatang dalam komunitas makhluk halus, karena itu wajib menghormati dan menjaga harmoni (bukan menyembah) mereka. Bagi orang Jawa, komunitas ruh adalah bagian integral dari keberadaan mereka. []